0
share

3 Film Tentang Perjuangan Melawan Rasisme Yang Memenangkan Banyak Perhargaan -Based On True Story-

3 Film Tentang Perjuangan Melawan Rasisme Yang Memenangkan Banyak Perhargaan -Based On True Story-

Baru dari TVGuide!
Sering kelewat acara TV favorit?? Set alarm acaranya dan tonton langsung! Download Aplikasi Jadwal TV
advertisement

‘Slavery Is An Evil That’s Should Befall None…’

Brad Pitt – 12 Years A Slave

 

Sejarah mampu mengajarkan banyak hal. Begitu banyak kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa lampau diamanapun di belahan dunia ini yang bisa kita jadikan pelajaran. Namun tentunya kejadian besar maupun peristiwa-peristiwa tersebut tak akan pernah jadi apa-apa jika tak dikabarkan. Disampaikan dalam berbagai cara, baik melalui tulisan ataupun gambar bergerak. Beruntung masih ada penulis yang membukukan, masih ada para sineas yang memfilmkan peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga kita dapat mengambil manfaat darinya.

Sebuah hasil karya pastinya tidak merupakan kehendak subjektif pembuatnya, ia akan selalu merupakan refleksi dari kenyataan sehari-hari yang dijalaninya. Pun begitu para sineas, para pembuat film pastinya akan selalu mendasarkan karyanya pada sesuatu yang hadir dan menginspirasi. Baik itu berupa fiksi, ataupun kejadian-kejadian yang nyata terjadi.

Masih ingat kan bagaimana seorang George RR Martin sang penulis seri buku A Song of Ice and Fire yang difilmkan oleh David Benioff dan D. B. Weiss untuk jaringan TV Kabel HBO di Amerika Serikat dengan judul Games Of Thrones, mendasarkan kisah penulisan bukunya pada kejadian-kejadian dan bahkan latar beserta simbol-simbolnya dari kisah nyata (Sejarah) sebenarnya di daratan Inggris. Walaupun serial buku tersebut merupakan kisah fiksi, namun itulah fakta yang sebenarnya bahwa sebuah kisah dapat begitu menginspirasi dan menghasilkan karya-karya selanjutnya.

Bagaimana dengan kisah nyata yang dituliskan? kisah nyata yang diFilmkan? Bagaimana drama, plot, alur cerita menjadi begitu hidup, begitu menyentuh dan pada akhirnya mampu memberikan kita pemahaman memadai mengenai apa dan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup sebagai manusia yang sadar. Intinya adalah begitu menginspirasi.

Berikut adalah beberapa Film yang dibuat berdasarkan peristiwa-peristiwa nyata tersebut dan berhasil memenangkan begitu banyak penghargaan. (disarikan dari berbagai sumber)

Amazing Grace (2006)

Amazing Grace adalah sebuah film drama biografi 2006 Amerika-Inggris yang disutradarai oleh Michael Apted, tentang kampanye melawan perdagangan budak di Kerajaan Inggris, yang dipimpin oleh William Wilberforce, yang bertanggung jawab untuk mengarahkan undang-undang perdagangan anti-budak melalui parlemen Inggris. Judul adalah referensi ke himne ‘Amazing Grace’.

Film ini juga menceritakan pengalaman John Newton sebagai awak kapal di sebuah kapal budak, yang mengilhami puisinya yang di kemudian hari digunakan dalam sebuah himne berjudul Amazing Grace. Newton digambarkan sebagai orang yang mempunyai pengaruh besar kepada Wilberforce dan gerakan penghapusan budak.

Cerita bermula di tahun 1782, William Wiberforce adalah seorang anak muda, ambisius, dan merupakan Anggota Parlemen yang cukup populer, ia mengalami pencerahan agama dan sejalan dirinya dengan sayap evangelis dari Gereja Inggris. Hal ini menyebabkan William merenungkan untuk meninggalkan politik untuk fokus belajar teologi, tetapi ia berhasil diyakinkan oleh teman-temannya William Pitt, Thomas Clarkson, Hannah More, dan Olaudah Equiano bahwa ia akan lebih efektif melakukan pekerjaan Allah dengan mengambil isu yang tidak populer dan berbahaya, penghapusan perdagangan budak di Inggris. Keyakinannya bertambah disebabkan pertemuannya dengan mantan mentornya yang ia kagumi, John Newton yang pernah bekerja sebagai awak kapal di sebuah kapal budak. Sebagai mantan kapten kapal budak yang berubah menjadi seorang Kristen taat, ia sangat menyesalkan kehidupan masa lalunya dan efek pada sesamanya. Newton mendesak William untuk mencari tahu penyebabnya.

Pitt terpilih menjadi Perdana Menteri dan William menjadi pendukung utama dan orang kepercayaannya. Pitt memberi William kesempatan untuk mempresentasikan sebuah RUU sebelum parlemen secara resmi melarang perdagangan budak. Kampanye William mendorongnya untuk menjadi sangat populer di Parlemen. Tetapi Ia ditentang oleh koalisi anggota parlemen yang mewakili kepentingan perdagangan budak di London, Bristol, Glasgow, dan Liverpool yang dipimpin oleh Banastre Tarleton dan Duke of Clarence.

Meskipun upayanya untuk meloloskan RUU pelarangan perdagangan budak banyak mendapatkan dukungan, tetapi karena sebagian besar anggota parlemen yang lain menentangnya, RUU William gagal diajukan. Setelah itu, film ini menggambarkan Pitt sebagai salah satu dari beberapa teman dan sekutu yang tersisa di Parlemen, bagaimanapun bahkan hubungan mereka menjadi tegang.

William terus melakukan perlawanan, tetapi setelah bertahun-tahun gagal dia meninggalkan kelelahan dan frustrasi bahwa ia tidak mampu mengubah apa pun dalam pemerintahan. Merasa hidupnya telah sia-sia, ia menjadi sakit secara fisik (dalam film dia digambarkan sebagai menderita radang usus kronis yang menyebabkan dia menjadi kecanduan Laudanum diresepkan untuk rasa sakit yang melumpuhkan), yang membawa cerita meloncat ke tahun 1797. Dmana dalam keadaan hampir putus asa, William meninggalkan politik selamanya. Namun Barbara calon istrinya berhasol meyakinkan dia untuk terus berjuang karena tidak ada orang lain yang bersedia atau mampu melakukannya. Beberapa hari setelah itu, William dan Barbara menikah. Beberapa tahun berlalu tanpa keberhasilan lebih lanjut. Istri dan anak-anak baru William memberinya dukungan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan pertarungan.

Akhirnya, dengan harapan baru untuk sukses, William merencanakan suatu metode perlahan-lahan melemahkan perdagangan budak melalui perundang-undangan yang tampaknya tidak berbahaya. Dibantu oleh Thornton, Clarkson, dan sekutu baru James Stephen serta disemangati oleh Pitt yang saat itu sedang sakit parah, ia perkenalkan kembali RUU untuk menghapuskan perdagangan budak. Dalam waktu relative singkat, setelah kampanye 20 tahun dan banyak upaya untuk mengjukan undang-undang itu ke parlemen, dia akhirnya bertanggung jawab atas RUU yang disahkan Parlemen pada tahun 1807, yang menghapuskan perdagangan budak di Kerajaan Inggris selamanya.

12 Years a Slave (2013)

12 Years a Slave adalah film drama yang rilis tahun 2013 dan merupakan adaptasi dari memoir naratif dengan judul sama ‘12 Years a Slave’ oleh Solomon Northup, seorang pria Afrika-Amerika yang terlahir bebas di Kota New York yang diculik di Washington, DC, pada tahun 1841 dan dijual sebagai seorang budak. Northup bekerja di perkebunan di negara bagian Louisiana selama 12 tahun sebelum dibebaskan. Edisi ilmiah pertama memoar Northup itu, diedit pada tahun 1968 oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon, secara seksama menelusuri dan memvalidasi dan menyimpulkannya untuk menjadi akurat. Karakter lain di film ini juga orang-orang yang nyata, termasuk Edwin dan Mary Epps, dan Patsey.

Pada tahun 1841, Solomon Northup, pria Afrika-Amerika bebas bekerja sebagai pemain biola. Ia tinggal bersama istrinya, Anne Hampton, dan dua anaknya di Saratoga Springs, Kota New York. Dua orang, Brown dan Hamilton, menawarkan dia pekerjaan dua minggu sebagai musisi jika ia akan melakukan perjalanan ke Washington, DC, dengan mereka. Sesampai di sana, mereka membius Northup dan mengirim dia dengan status sebagai seorang budak ke sebuah perkebunan yang dimiliki oleh James Burch.

Solomon Northup dikirim ke New Orleans bersama dengan beberapa budak lain yang telah ditangkap. Seorang pedagang budak bernama Freeman memberikan Northup identitas ‘Platt’, budak yang melarikan diri dari Georgia dan menjual dia untuk pemilik perkebunan William Ford. Northup mengesankan Ford ketika ia merancang jalur air untuk mengangkut kayu dengan cepat dan dengan biaya yang murah melalui rawa, sehingga Ford memberi dia sebuah biola dimana ‘platt’ dapat mengukir nama istri dan anak-anaknya.

Cerita berlanjut ketika Ford harus menjual Solomon ke pemilik perkebununa Edward Epps. Epps adalah seorang yang bengis dan jahat. Ia adalaha orang yang mempercayai bahwa ia punya hak untuk menyiksa para budak. Hanya gara-gara diakibatkan seorang budak tidak mampu memenuhi target ketika bekerja di perkebunan kapas miliknya, epps akan segera menyiksa mereka dengan cambukan. Lain soal dengan Patsey, seorang budak perempuan yang mampu memenuhi target pekerjaan, epps akan memuji-mujinya, bahkan karena epss tertarik padanya, ia kerap kali memperkosa patsey.

Beberapa waktu kemudian, wabah cacing menimpa perkebunan Kapas milik Epps. Tidak dapat bekerja di ladang, ia menyewakan para budaknya untuk bekerja di perkebunan tetangga selama semusim. Sementara bekerja disana, Northup mendapatkan kesempatan dari pemilik perkebunan, Hakim Turner, yang memungkinkan dia untuk bermain biola pada perayaan ulang tahun pernikahan tetangga, dan untuk menjaga penghasilannya. Ketika Northup kembali ke Epps, ia mencoba untuk menggunakan uang itu untuk membayar seorang budak kulit putih yang adalah seorang mantan pengawas, Armsby, untuk mengirimkan surat kepada teman-teman Northup di negara bagian New York. Armsby setuju untuk memberikan surat itu, dan menerima semua uang Northup yang disimpan, tetapi Armsby mengkhianati Nothup dan melaporkannya kepada Epps. Untunglah Northup mampu meyakinkan Epps bahwa apa yang Armsby katakan adalah kebohongan untuk menghindari hukuman. Northup sambil menangis membakar surat, satu-satunya harapan kebebasan.

Northup mulai bekerja pada pembangunan gazebo dengan seorang buruh Kanada bernama Bass. Bass merasa tidak setuju dengan cara Epps memperlakukan budak dan menyatakan penentangannya terhadap perbudakan, dan mendapatkan permusuhan dari Epps.

Northup sengaja menghancurkan biolanya, dan sambil terus bekerja di gazebo, Northup mengaku kepada Bass bahwa ia adalah orang bebas yang diculik untuk dijadikan budak. Sekali lagi, Northup meminta bantuan untuk mengirimkan surat kepada keluarganya di Saratoga Springs. Bass, mempertaruhkan nyawanya, setuju untuk mengirimkannya.

Suatu hari, Northup dipanggil oleh sheriff setempat, yang tiba di kereta bersama pria lain. Sheriff meminta Northup menjawab serangkaian pertanyaan untuk mengkonfirmasi jawabannya sesuai dengan fakta-fakta kehidupannya di New York. Northup mengakui pendamping sheriff sebagai C. Parker, seorang pemilik toko yang ia tahu di Saratoga. Parker telah datang untuk membebaskannya, meskipun Epps tidak terima dan marah-marah memprotes keadaan dan mencoba untuk mencegah dia pergi.

Setelah diperbudak selama 12 tahun, Northup dikembalikan ke kebebasan dan kembali ke keluarganya. Saat ia masuk ke rumahnya, dia melihat Anne, Alonzo, Margaret dan suaminya, yang menyampaikan padanya nama cucunya, Solomon Northup Staunton. Penutup Film ini menceritakan ketidakmampuan Northup dan kuasa hukumnya untuk menuntut Brown, Hamilton dan Burch, begitu juga penerbitan karya memoir Northup ini di tahun 1853 serta misteri seputar rincian kematian dan pemakamannya.

Selma (2014)

Selma adalah 2014 Film drama sejarah yang disutradarai oleh Ava Duvernay dan ditulis oleh Paul Webb. Yang didasarkan atas awai hak suara dari Selma ke Montgomery di tahun 1965 yang dipimpin oleh James Bevel, Hosea Williams, dan Martin Luther King Jr. Film ini dibintangi aktor Inggris David Oyelowo sebagai Marthin Luther King jr, Tom Wilkinson sebagai Presiden Lyndon B. Johnson, Tim Roth sebagai George Wallace, Carmen Ejogo sebagai Coretta Scott King, dan rapper Amerika dan aktor ‘common’ sebagai Bevel.

Pada tahun 1964 Dr Martin Luther King, Jr. menerima hadiah Nobel Perdamaian. Ketika sebuah peristiwa Empat orang gadis Afrika-Amerika yang ditampilkan berjalan menuruni tangga dari Gereja Baptis 16th Street, untuk berbicara. Sebuah ledakan terjadi, menewaskan empat anak perempuan itu dan melukai banyak lainnya. Di Selma, Alabama, Annie Lee Cooper mencoba untuk mendaftar untuk memilih, tetapi tidak diperbolehkan oleh pemilih kulit putih. King bertemu dengan Presiden Lyndon B. Johnson dan meminta undang-undang federal untuk memungkinkan warga kulit hitam untuk mendaftar sebagai pemilih. Johnson mengatakan ia memiliki proyek yang lebih penting.

King melakukan perjalanan ke Selma dengan Ralph Abernathy, Andrew Young, James Orange, dan Diane Nash. James Bevel menyapa mereka, dan aktivis SCLC lainnya muncul. Direktur FBI saat itu, J. Edgar Hoover mengatakan kepada Johnson bahwa King adalah masalah, dan menyarankan mereka mengganggu pernikahannya. Coretta Scott King memiliki kekhawatiran tentang pekerjaan yang akan datang terhadap suaminya di Selma. King meminta penyanyi Michael Jackson untuk menginspirasi dia dengan sebuah lagu. King dan warga Selma berkulit hitam berbaris ke kantor pendaftaran untuk mendaftar. Setelah konfrontasi di depan gedung pengadilan mendorong pihak kepolisian masuk ke kerumunan. Cooper melawan, menyebabkan Sheriff Jim Clark jatuh ke tanah, yang akhirnya mengarah ke penangkapan Cooper, King, dan lainnya.

Gubernur Alabama George Wallace berbicara menentang gerakan. Coretta bertemu dengan Malcolm X yang mengatakan ia akan mendorong kulit putih untuk bersekutu dengan King dengan menganjurkan posisi yang lebih ekstrim. Wallace dan Al Lingo memutuskan untuk menggunakan kekuatan pada Maret malam mendatang di Marion, Alabama, menggunakan polisi negara bagian untuk menyerang para demonstran. Sekelompok pengunjuk rasa berjalan ke sebuah restoran untuk bersembunyi, tapi polisi menyerbu masuk untuk mengalahkan dan menembak Jimmie Lee Jackson. King dan Bevel bertemu dengan Cager Lee, kakek Jackson, di kamar mayat. Raja berbicara untuk meminta orang untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka. Namun Kings menerima ancaman terhadap anak-anak mereka, dan King dikritik oleh anggota Student Nonviolent Coordinating Committee (SNCC).

Ketika Pawai akbar Selma ke Montgomery akan dimulai, King berbicara kepada Young untuk membatalkan itu, tapi Young berhasil meyakinkan King untuk bertahan. Para demonstran, termasuk John Lewis dari SNCC, Hosea Williams dari SCLC, dan Selma aktivis Amelia Boynton, menyeberangi Jembatan Edmund Pettus dan mendekati garis polisi negara bagian yang mengenakan masker gas, dan kemudian menyerang dengan klub, kuda, gas air mata dan senjata lainnya. Lewis dan Boynton berada diantara mereka yang terluka parah. Serangan brutal polisi tersebut disiarkan di televisi nasional dan yang terluka dirawat di sbuah gereja yang dijadikan tempat koordinasi gerakan Selma. Pengacara Gerakan Fred Gray meminta Hakim Federal Frank Minis Johnson untuk membiarkan pawai maju. Presiden Johnson menuntut bahwa King dan Wallace menghentikan aksi mereka, dan mengirim John Doar untuk meyakinkan King untuk menunda pawai berikutnya.

Kulit putih Amerika, seperti Viola Liuzzo dan James Reeb, tiba untuk bergabung dengan pawai kedua. Para Demonstran menyeberangi jembatan lagi dan melihat polisi negara bagian berbaris, tetapi polisi menyimpang untuk membiarkan mereka lewat. King, setelah berdoa, memimpin grup pawai, walaupun berada dibawah kritik tajam dari para aktivis SNCC. Sore Itu Reeb dipukuli oleh dua orang kulit putih di jalan, dan menceritakan kematiannya kepada King. Johnson memperbolehkan pawai tetap digelar. Presiden Johnson berbicara sebelum Rapat Gabungan Kongres untuk meminta secepatnya UU untuk menghilangkan pembatasan hak pilih, memuji keberanian para aktivis, dan menyatakan dalam pidatonya Kita akan mengatasinya, ‘We Shall Overcome’.

Dan ketika demonstran mencapai Montgomery, King menyampaikan pidato di tangga State Capitol. King menyimpulkan dengan mengatakan bahwa ‘kesetaraan bagi Afrika Amerika mendekati’.

Suka dengan artikel ini? silakan bagikan

Komentar terkait berita 3 Film Tentang Perjuangan Melawan Rasisme Yang Memenangkan Banyak Perhargaan -Based On True Story-
Seru? Serem? Lucu? Kita pengen tahu pendapat kamu tentang berita 3 Film Tentang Perjuangan Melawan Rasisme Yang Memenangkan Banyak Perhargaan -Based On True Story-!

advertisement
close